Menghadapi Era Siber: Tantangan Transformasi Digital Perpustakaan Perguruan Tinggi
Oleh : Syibly Maufur,M.Pd
Transformasi digital telah mengubah wajah perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan tidak lagi hanya dipahami sebagai ruang yang menyediakan rak dan koleksi buku cetak, tetapi berkembang menjadi pusat informasi yang dapat diakses melalui berbagai platform digital. Perubahan tersebut semakin penting bagi perguruan tinggi yang mengembangkan ekosistem pembelajaran berbasis siber. UNESCO juga menempatkan transformasi digital sebagai salah satu aspek penting dalam perubahan pendidikan tinggi, dengan penekanan bahwa teknologi harus digunakan secara inklusif dan berorientasi pada kebutuhan manusia.
Namun, transformasi menuju perpustakaan digital dan siber tidak semata-mata persoalan menyediakan aplikasi atau mengubah koleksi cetak menjadi format digital.
Penelitian mengenai praktik digitalisasi perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia menunjukkan adanya sejumlah kendala, antara lain keterbatasan anggaran, sarana-prasarana, kompetensi sumber daya manusia, serta belum kuatnya perencanaan dan kebijakan digitalisasi.
Tantangan pertama adalah ketersediaan dan kualitas infrastruktur digital. Sistem perpustakaan harus mampu memberikan akses yang cepat, stabil, aman, dan mudah digunakan mahasiswa. Gangguan jaringan, server, integrasi sistem, maupun akses jarak jauh dapat mengurangi pengalaman pengguna. Studi terhadap layanan referensi Perpustakaan Universitas Indonesia, misalnya, menemukan persoalan pemeliharaan fasilitas dan akses jarak jauh yang masih menjadi perhatian pengguna.
Tantangan kedua adalah kemampuan sumber daya manusia. Pustakawan tidak cukup hanya menguasai pengelolaan koleksi konvensional, tetapi juga perlu memahami pengelolaan basis data, literasi informasi, layanan virtual, preservasi digital, keamanan informasi, serta perkembangan kecerdasan buatan (AI). Perubahan teknologi sekaligus mengubah ekspektasi pemustaka terhadap peran pustakawan.
Tantangan ketiga berkaitan dengan perilaku dan literasi digital mahasiswa. Mahasiswa mungkin sangat terbiasa menggunakan internet, tetapi belum tentu mampu menemukan sumber akademik yang kredibel, mengevaluasi informasi, menggunakan database ilmiah, dan menghindari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, perpustakaan digital harus berjalan bersama program literasi informasi dan literasi digital. UNESCO menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga kemampuan memahami, bekerja secara kolaboratif, dan menggunakan teknologi secara etis.
Contoh temuan wawancara mahasiswa yang dapat digunakan setelah disesuaikan dengan data lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan mahasiswa tidak hanya berupa koleksi digital.
Seorang mahasiswa dapat menyampaikan, “Saya lebih suka mencari bahan kuliah secara online karena bisa dilakukan dari rumah, tetapi kadang bingung menentukan jurnal atau sumber yang benar-benar dapat dipercaya.”
Mahasiswa lain dapat mengungkapkan, “Kalau akses e-book atau repository mudah dan bisa dibuka melalui HP, saya lebih sering menggunakan perpustakaan.”
Kutipan tersebut sebaiknya diganti dengan hasil wawancara asli mahasiswa agar memenuhi kaidah penelitian.
Dengan demikian, perpustakaan perguruan tinggi di era siber perlu membangun transformasi yang menyeluruh: teknologi, koleksi, sumber daya manusia, layanan, literasi digital, keamanan informasi, dan kebijakan harus dikembangkan secara terpadu. Perpustakaan digital pada akhirnya bukan sekadar perpustakaan yang dipindahkan ke layar, melainkan ekosistem pengetahuan yang memungkinkan mahasiswa memperoleh informasi secara mudah, kritis, aman, dan bertanggung jawab.
Referensi
Hendrawan, M. R., & Pratiwi, K. Y. (2023). Pengaruh Layanan Daring Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum Selama Pandemi Covid-19 terhadap Minat dan Perilaku Penggunaan Ulang Mahasiswa Tingkat Sarjana. Media Pustakawan, 30(1).
Naibaho, K. (2020). Evaluasi Layanan Online dan Akses ke Koleksi Digital Perpustakaan Universitas Indonesia. Visi Pustaka, 22(1).
Saputra, A., & Desriyeni. (2024). Praktik Digitalisasi Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia Tahun 2017 s.d. 2022. Media Pustakawan, 31(2).
UNESCO IESALC. (2025). Digital literacy: Fostering possible futures through higher education.
UNESCO. (2026). Transforming higher education: Global collaboration on visioning and action