Pusat Perpustakaan

the art of doing nothing

The Art of Doing Nothing: Mengapa Otak Perlu Istirahat untuk Memunculkan Ide Kreatif

Penulis: Tohirin& Anas Azhar Nasim*

Pernahkah Anda merasa bersalah saat duduk diam tanpa melakukan apa-apa? Di benak banyak mahasiswa, sering kali tertanam doktrin hustle culture: “Kalau kamu tidak sedang membaca buku, mengetik makalah, atau rapat organisasi, berarti kamu pemalas.”

Akibatnya, kita memaksakan diri untuk terus “produktif”. Laptop menyala hampir 24 jam, notifikasi grup WhatsApp tak pernah berhenti, dan kita bahkan merasa bangga dengan status “kurang tidur”. Namun, ironisnya, saat otak dipaksa bekerja tanpa henti, ide skripsi justru macet. Tulisan tak kunjung selesai, dan yang muncul malah kelelahan mental (burnout).

Di sinilah kita perlu belajar seni yang sering terlupakan: The Art of Doing Nothing (seni tidak melakukan apa-apa).

Paradoks Produktivitas: Otak Butuh “Bengong”

Secara ilmiah, otak manusia tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Saat kita fokus mengerjakan tugas, otak menggunakan jaringan yang disebut Task-Positive Network (TPN). Namun, ketika kita melamun, berjalan santai tanpa gawai, atau sekadar menatap hujan, otak beralih ke mode lain, yaitu Default Mode Network (DMN).

Penelitian neurosains menunjukkan bahwa DMN justru sangat aktif saat kita terlihat “tidak melakukan apa-apa”. Pada fase inilah otak menghubungkan ide-ide acak, memproses ingatan jangka panjang, serta memunculkan solusi kreatif yang tak terduga (Immordino-Yang et al., 2012). Tak heran jika ide judul skripsi sering muncul saat mandi atau melamun di perjalanan, bukan ketika kita stres menatap layar laptop di perpustakaan.

Perspektif Islam: Tafakur Bukanlah Kemalasan

Sebagai mahasiswa di kampus Islam, konsep ini dapat dipahami dari kacamata spiritual. Dalam Islam, “diam” yang bertujuan bukanlah kemalasan, melainkan tafakur.

Rasulullah SAW, sebelum menerima wahyu, kerap menyendiri (tahannuts) di Gua Hira, menjauh dari hiruk-pikuk masyarakat Makkah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juga menekankan pentingnya kejernihan hati (qalb), yang hanya dapat dicapai melalui ketenangan, bukan melalui kesibukan duniawi yang berlebihan (Al-Ghazali, 2015).

Berhenti sejenak untuk bertafakur memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas dan bagi akal untuk memandang persoalan—termasuk revisi dosen—dengan perspektif yang lebih jernih.

Cara Mempraktikkan “Doing Nothing” di Kampus

Lalu, bagaimana mempraktikkannya tanpa dicap pemalas?

  1. Jeda Tanpa Gawai
    Saat jeda antarperkuliahan, cobalah duduk selama 10 menit tanpa membuka ponsel. Biarkan pikiran mengembara. Mengganti waktu istirahat dengan scrolling media sosial bukanlah rehat, melainkan membanjiri otak dengan informasi yang melelahkan.
  2. Jalan Kaki Tanpa Musik
    Lingkungan kampus yang luas dapat dimanfaatkan untuk berjalan kaki dari satu gedung ke gedung lain tanpa earphone. Perhatikan pepohonan, bangunan, atau langit. Aktivitas sederhana ini membantu otak memasuki mode reflektif.
  3. Tidur Siang Singkat (Power Nap)
    Pang (2016) menjelaskan bahwa banyak tokoh besar dunia membiasakan tidur siang singkat untuk memulihkan energi kreatif. Perpustakaan atau ruang tenang di kampus bisa menjadi tempat untuk memejamkan mata selama 10–15 menit—tentu tanpa kebablasan hingga sore.

Kesimpulan

Menjadi produktif tidak selalu berarti sibuk setiap detik. Terkadang, hal paling produktif yang bisa kita lakukan justru menutup laptop, menyeduh kopi, dan memberi ruang bagi otak untuk beristirahat.

Jangan takut mengambil jeda. Sebuah paragraf yang indah membutuhkan tanda baca koma dan titik agar dapat dipahami. Begitu pula hidup—dan skripsi—keduanya membutuhkan jeda agar bermakna.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, A. H. (2015). Ihya’ ulumuddin: Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Republika Penerbit.

Immordino-Yang, M. H., Christodoulou, J. A., & Singh, V. (2012). Rest is not idleness: Implications of the brain’s default mode for human development and education. Perspectives on Psychological Science, 7(4), 352–364. https://doi.org/10.1177/1745691612447308

Newport, C. (2016). Deep work: Rules for focused success in a distracted world. Grand Central Publishing.

Pang, A. S.-K. (2016). Rest: Why you get more done when you work less. Basic Books.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top