Pusat Perpustakaan

Seni Basa-Basi Berfaedah: Strategi Membangun Networking dengan Dosen dan Senior Demi Kesuksesan Karir

Seni Basa-Basi Berfaedah: Strategi Membangun Networking dengan Dosen dan Senior Demi Kesuksesan Karir

Penulis: Tohirin& Anas Azhar Nasim*

 

Pernahkah Anda mengalami momen canggung saat berpapasan dengan dosen di koridor kampus atau bertemu kakak tingkat di kantin? Banyak mahasiswa memilih menunduk, pura-pura sibuk dengan ponsel, atau hanya melempar senyum kaku lalu berlalu cepat. Padahal, momen singkat tersebut bisa menjadi pintu gerbang menuju peluang besar yang tak terduga.

Di dunia kampus, kemampuan akademik seperti IPK memang penting. Namun, survei dan realitas dunia kerja menunjukkan bahwa soft skill—khususnya kemampuan komunikasi dan membangun jejaring (networking)—sering kali menjadi penentu kesuksesan. Bagi mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, “basa-basi” bukan sekadar omong kosong, melainkan seni membangun silaturahmi yang profesional dan bermakna.

Bukan “Caper”, tetapi Membangun Koneksi

Sering muncul stigma bahwa mahasiswa yang dekat dengan dosen atau senior dianggap “caper” (cari perhatian) atau penjilat. Padahal, terdapat garis tegas antara menjilat dan membangun jejaring. Menjilat berfokus pada pujian kosong demi kepentingan sesaat, sementara networking bertumpu pada pertukaran ide, informasi, dan sikap saling menghormati.

Dale Carnegie dalam buku klasik How to Win Friends and Influence People menyebutkan bahwa kesuksesan seseorang hanya 15% ditentukan oleh kemampuan teknis, sedangkan 85% sisanya ditentukan oleh kemampuan berhubungan dengan orang lain (Carnegie, 2010). Basa-basi yang berkualitas adalah kunci pembuka bagi 85% faktor tersebut.

Silaturahmi: Konsep Networking dalam Islam

Dalam perspektif Islam, praktik networking sejalan dengan konsep silaturahmi. Memperluas relasi bukan hanya strategi karier, melainkan juga ibadah yang mendatangkan keberkahan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi” (HR. Bukhari & Muslim).

Makna rezeki di sini dapat dipahami secara luas, mulai dari informasi beasiswa dari dosen, kesempatan terlibat dalam proyek penelitian, hingga nasihat berharga dari kakak tingkat tentang strategi menyelesaikan skripsi.

Topik Basa-Basi “Berfaedah” di Lingkungan Kampus

Lantas, bagaimana memulai obrolan tanpa terkesan cringe atau sok akrab? Beberapa strategi berikut dapat diterapkan:

  1. Gunakan Konteks Akademik (The Intellectual Bridge)
    Saat bertemu dosen di perpustakaan, alih-alih bertanya, “Bapak sudah makan?”, cobalah pertanyaan yang relevan secara intelektual, seperti: “Bapak, saya tertarik dengan tema yang Bapak sampaikan di kelas tadi. Apakah ada rekomendasi buku di perpustakaan ini yang membahasnya lebih mendalam?” Pertanyaan semacam ini menunjukkan ketertarikan akademik yang tulus.
  2. Minta Saran, Bukan Minta Nilai
    Kepada kakak tingkat yang aktif berorganisasi, ajukan pertanyaan seperti: “Kak, dulu bagaimana cara Kakak membagi waktu antara kegiatan himpunan dan tugas kuliah?” Secara psikologis, manusia cenderung senang dimintai nasihat karena merasa dihargai pengalamannya.
  3. Apresiasi Karya
    Jika dosen Anda baru menerbitkan jurnal atau artikel, sampaikan apresiasi secara singkat dan tulus. Misalnya: “Saya baru membaca tulisan Ibu tentang literasi digital. Isinya sangat membuka wawasan saya.” Apresiasi yang jujur dapat menjadi pembuka percakapan yang elegan.

Etika sebagai Kunci Utama

Kedekatan tanpa etika justru berpotensi merusak tujuan networking. Syekh Al-Zarnuji menegaskan bahwa keberkahan ilmu terletak pada penghormatan murid kepada gurunya (Al-Zarnuji, 2008). Oleh karena itu, hindari menghubungi dosen di luar jam kerja untuk urusan sepele, perhatikan bahasa yang digunakan, serta jaga sikap dan bahasa tubuh saat berinteraksi.

Jangan menjadi mahasiswa yang hanya dikenal ketika mengumpulkan tugas. Jadilah pribadi yang diingat karena kesantunan, wawasan, dan inisiatif komunikasi yang baik. Mulailah menyapa hari ini—siapa tahu basa-basi sederhana Anda menjadi awal dari rekomendasi karier di masa depan.

Daftar Pustaka

  • Al-Zarnuji, B. (2008). Ta’lim al-Muta’allim: Tariq al-ta’allum. Maktabah Al-Turats Al-Islami.
  • Carnegie, D. (2010). How to win friends and influence people. Simon & Schuster.
  • DeVito, J. A. (2019). The interpersonal communication book (15th ed.). Pearson Education.
  • Robbins, S. P., & Hunsaker, P. L. (2012). Training in interpersonal skills: TIPS for managing people at work (6th ed.). Prentice Hall.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top