Literasi Digital dan Etika Siber: Kajian pada Pengguna Media Sosial
Penulis : Tohirin (pustakawan Ahli Muda )
A. Pendahuluan
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Pengguna tidak hanya berinteraksi sosial, tetapi juga berbagi informasi, membentuk opini publik, dan melakukan aktivitas ekonomi digital. Namun, meningkatnya aktivitas digital juga disertai dengan berbagai masalah seperti hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber (cyberbullying), pencurian data, dan pelanggaran privasi.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, literasi digital dan etika siber menjadi bekal wajib bagi pengguna media sosial. Literasi digital membantu pengguna memahami dan menilai informasi secara kritis, sedangkan etika siber menjadi pedoman perilaku yang bertanggung jawab di ruang digital. Artikel ini mengkaji hubungan antara literasi digital dan etika siber, serta bagaimana keduanya mempengaruhi perilaku pengguna media sosial.
B. Pengertian Literasi Digital
Literasi digital adalah kemampuan individu dalam menggunakan teknologi digital untuk:
- Mengakses informasi dengan efektif.
- Memahami dan menganalisis informasi secara kritis.
- Mengevaluasi kredibilitas sumber informasi.
- Menggunakan media digital secara kreatif dan produktif.
- Berkomunikasi dan berkolaborasi dalam lingkungan digital.
- Memahami risiko keamanan dan privasi digital.
Menurut Gilster (1997), literasi digital bukan hanya keterampilan teknis, tetapi kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi informasi digital.
C. Etika Siber (Cyber Ethics)
Etika siber adalah seperangkat aturan, norma, dan prinsip moral dalam berperilaku di dunia digital. Etika siber mencakup:
- Menghormati privasi orang lain
- Tidak menyebarkan informasi palsu atau menyesatkan
- Menggunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung kebencian
- Menghargai hak cipta dan karya digital
- Tidak melakukan perundungan atau pelecehan
- Menghindari manipulasi informasi dan penipuan online
Etika siber sangat penting untuk menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan harmonis.
D. Hubungan Literasi Digital dan Etika Siber
Literasi digital dan etika siber berkaitan erat dan saling memengaruhi. Beberapa hubungan penting antara lain :
1. Literasi Digital Mengarahkan Pengguna pada Perilaku Etis
Pengguna yang memahami cara kerja internet, algoritma, dan penyebaran informasi cenderung lebih berhati-hati dalam berbagi konten. Mereka lebih peka terhadap dampak sosial dari pesan yang mereka sebarka
2. Etika Siber Membentuk Tanggung Jawab Pengguna dalam Bermedia Sosial
Etika siber memberikan pedoman perilaku yang mencegah pengguna menyebarkan konten berbahaya, meskipun secara teknis mereka mampu melakukannya. Literasi digital tanpa etika dapat menyebabkan penyalahgunaan platform digital.
3. Literasi Digital Membantu Pengguna Menghindari Pelanggaran Etika
Dengan kemampuan menilai informasi, pengguna dapat:
- Menghindari hoaks
- Mendeteksi akun palsu
- Menghindari propaganda digital
Tidak mudah terbawa arus provokasi
E. Kajian Perilaku Pengguna Media Sosial
- Fenomena Penyebaran Hoaks dan Disinformasi
Pengguna dengan literasi digital rendah cenderung menyebarkan informasi tanpa memverifikasi kebenarannya. Hal ini memicu penyebaran hoaks, terutama di platform cepat seperti WhatsApp, Facebook, dan TikTok.
- Cyberbullying dan Hate Speech
Rendahnya etika siber menyebabkan meningkatnya ujaran kebencian, body shaming, dan perundungan. Banyak pelaku merasa aman karena berada di balik layar.
- Pelanggaran Privasi
Kurangnya pemahaman tentang keamanan digital menyebabkan pengguna membagikan data pribadi secara berlebihan, seperti foto KTP, alamat lengkap, atau lokasi real time.
- Manipulasi Konten
Pengguna dengan kemampuan digital terbatas lebih rentan terpengaruh konten manipulatif, seperti deepfake, clickbait, dan iklan bersponsor yang disamarkan sebagai berita.
F. Strategi Penguatan Literasi Digital dan Etika Siber
- Integrasi literasi digital dalam pendidikan formal di semua jenjang.
- Kampanye edukasi publik melalui pemerintah dan komunitas digital.
- Optimalisasi perpustakaan digital sebagai media literasi informasi.
- Workshop etika siber untuk mahasiswa, pekerja, dan masyarakat umum.
- Kolaborasi platform media sosial untuk menekan konten negatif.
- Peningkatan keamanan digital pribadi melalui penggunaan password kuat, 2FA, dan verifikasi sumber.
G. Kesimpulan
Literasi digital dan etika siber merupakan dua komponen penting dalam pembentukan perilaku pengguna media sosial yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Pengguna yang memiliki literasi digital tinggi tetapi tidak beretika dapat menyebabkan kerusakan digital, seperti penyebaran hoaks atau cyberbullying. Sebaliknya, etika tanpa literasi membuat pengguna mudah tertipu dan dimanipulasi. Oleh karena itu, penguatan literasi digital dan etika siber harus berjalan seiring untuk menciptakan ekosistem media sosial yang aman, sehat, dan produktif.
H. Daftar Pustaka
Buku & Jurnal Ilmiah
- Gilster, P. (1997). Digital Literacy. Wiley Computer Publishing.
- Buckingham, D. (2019). The Media Education Manifesto. Polity Press.
- Eshet-Alkalai, Y. (2004). “Digital Literacy: A Conceptual Framework for Survival Skills in the Digital Era.” Journal of Educational Multimedia and Hypermedia, 13(1).
- Livingstone, S. (2004). “Media Literacy and the Challenge of New Information and Communication Technologies.” The Communication Review, 7(1).
- Ribble, M. (2015). Digital Citizenship in Schools: Nine Elements All Students Should Know. ISTE.
- Paul, R., & Elder, L. (2014). The Miniature Guide to Ethical Reasoning. Foundation for Critical Thinking.
- Boyd, D. (2014). It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens. Yale University Press.
Laporan dan Sumber Digital
- UNESCO. (2018). Media and Information Literacy: Policy and Strategy Guidelines.
- Common Sense Media. (2021). The State of Kids’ Digital Well-Being.
- European Commission. (2019). Digital Competence Framework for Citizens (DigComp).
American Library Association (ALA). (2020). Digital Literacy Framework