Mahasiswa Kura-Kura vs Kupu-Kupu: Strategi Menyeimbangkan Organisasi dan Akademik Tanpa Mengorbankan IPK
Penulis: Tohirin & Anas Azhar Nasim*
Di kantin atau selasar kampus UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, kita sering mendengar perdebatan klasik yang tak kunjung usai: “Mending jadi mahasiswa Kupu-kupu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang) yang IPK-nya Cumlaude, atau mahasiswa Kura-kura (Kuliah Rapat-Kuliah Rapat) yang jaringannya luas?”
Stigma pun bermunculan. Mahasiswa Kupu-kupu sering dianggap apatis dan kurang gaul, sementara mahasiswa Kura-kura sering dicap sebagai “mahasiswa abadi” yang lulusnya telat. Padahal, di era yang semakin kompetitif ini, memilih salah satu saja tidaklah cukup. Dunia pasca-kampus menuntut integrasi antara kecerdasan akademik (hard skills) dan kematangan emosional (soft skills) yang didapat dari organisasi.
Pertanyaannya, mungkinkah kita menjadi aktivis organisasi yang vokal di mimbar rapat, namun tetap “garang” saat presentasi makalah di kelas? Jawabannya: Sangat mungkin, asalkan tahu strateginya.
1. Memahami Skala Prioritas: Matriks Eisenhower
Kesalahan terbesar aktivis kampus yang nilai akademiknya anjlok biasanya bukan karena kurang waktu, melainkan salah prioritas. Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People mempopulerkan Matriks Eisenhower yang membagi kegiatan menjadi empat kuadran (Covey, 2020).
Mahasiswa cerdas harus bisa membedakan mana yang Penting-Mendesak (Tugas kuliah besok, UAS) dan mana yang Penting-Tidak Mendesak (Rapat proker bulan depan). Jangan sampai waktu produktif Anda habis untuk hal yang Tidak Penting-Mendesak (seperti membalas debat di grup WhatsApp organisasi yang tidak berujung).
2. Teknik “Sinergi”: Jadikan Organisasi Bahan Kuliah
Jangan pisahkan dunia organisasi dan akademik seolah-olah keduanya bermusuhan. Justru, sinergikan keduanya. Jika Anda aktif di organisasi, gunakan pengalaman atau data organisasi tersebut sebagai bahan tugas kuliah.
Misalnya, saat mendapat tugas mata kuliah Manajemen atau Sosiologi, jadikan dinamika organisasi Anda sebagai studi kasus dalam makalah. Dengan cara ini, Anda melakukan “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Astin (1999) dalam teori keterlibatan mahasiswa (Student Involvement Theory) menyebutkan bahwa keterlibatan aktif di lingkungan kampus justru bisa meningkatkan kualitas pembelajaran jika diarahkan dengan benar.
3. Manajemen Energi, Bukan Sekadar Manajemen Waktu
Seringkali kita merasa lelah bukan karena kurang tidur, tapi karena energi mental yang terkuras. Rapat yang tidak efektif seringkali memakan energi lebih besar daripada kuliah 2 SKS.
Terapkan prinsip efisiensi. Jika sebuah diskusi bisa diselesaikan lewat chat atau rapat daring 30 menit, jangan paksakan rapat tatap muka berjam-jam di sekretariat. Simpan energi puncak Anda (biasanya di pagi hari) untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik yang berat, dan gunakan waktu sore atau sela-sela kuliah untuk urusan organisasi.
4. Ingat “Amanah” Utama
Sebagai mahasiswa, apalagi di kampus berbasis Islam, kita memegang amanah dari orang tua. Status utama kita adalah “penuntut ilmu” (thalib al-ilm). Organisasi adalah wasilah (perantara) untuk mematangkan diri, bukan tujuan akhir yang menggugurkan kewajiban utama.
Jangan jadikan organisasi sebagai pelarian (defense mechanism) dari ketidakmampuan akademik. Jadilah aktivis yang disegani karena gagasan organisasinya brilian, dan dikagumi karena pemahaman materi kuliahnya mendalam.
Kesimpulan Menjadi mahasiswa ideal bukan soal memilih menjadi Kupu-kupu atau Kura-kura, melainkan menjadi “Lebah”. Lebah tidak hanya sibuk (seperti kura-kura) dan bisa terbang jauh (seperti kupu-kupu), tetapi ia juga hinggap di tempat yang baik dan menghasilkan madu yang bermanfaat. Seimbangkan akademik dan organisasi, niscaya masa depan cerah menanti.
Daftar Pustaka
- Astin, A. W. (1999). Student involvement: A developmental theory for higher education. Journal of College Student Development, 40(5), 518–529.
- Covey, S. R. (2020). The 7 habits of highly effective people: Powerful lessons in personal change. Simon & Schuster.
- Huang, Y.-R., & Chang, S.-M. (2004). Academic and cocurricular involvement: Their relationship and the best combinations for student growth. Journal of College Student Development, 45(4), 391–406. https://doi.org/10.1353/csd.2004.0049
- Susanto, H. (2021). Manajemen diri mahasiswa: Menyeimbangkan prestasi akademik dan organisasi. Pustaka Pelajar.
*Pustakawan & Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon program Magister S2 beasiswa.