Pusat Perpustakaan

Manajemen Stres Mahasiswa: Healing Sufi Ala Imam Al-Ghazali

Manajemen Stres Mahasiswa: Healing Sufi Ala Imam Al-Ghazali

Penulis: Syibli Maufur & Anas Azhar Nasim*

Pernahkah kamu merasa dada sesak karena revisi skripsi yang tak kunjung di-acc? Atau merasa insecure melihat pencapaian teman di Instagram sementara kamu merasa “jalan di tempat”? Di zaman now, kita menyebutnya anxiety, burnout, atau sekadar “butuh healing”.

Tapi tahukah kamu? Jauh sebelum istilah psikologi modern muncul, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali pernah mengalami krisis mental yang luar biasa berat. Beliau meninggalkan jabatan prestisius sebagai rektor Madrasah Nizamiyah karena kegelisahan batin yang mendalam. Dari krisis itulah lahir magnum opus beliau, Ihya’ Ulumuddin.

Ternyata, obat penenang jiwa (sedatif) terbaik bukan hanya liburan ke Bali, tapi ada dalam konsep Tasawwuf. Berikut adalah resep “Manajemen Stres” ala Al-Ghazali yang bisa kamu praktikkan di tengah hiruk-pikuk tugas kuliah:

  1. Ubah Mindset: “Dunia Itu Sarana, Bukan Tujuan” (Zuhud)

Stres mahasiswa seringkali muncul karena kita terlalu mencintai hasil akhir: IPK sempurna, pujian dosen, atau pengakuan teman. Al-Ghazali dalam kitab Dhamm al-Dunya (Celaan terhadap Dunia) mengingatkan bahwa kecintaan berlebih pada hal duniawi adalah sumber penderitaan.

Bukan berarti kita tidak boleh mengejar prestasi. Namun, geser fokusmu: Kuliah adalah sarana ibadah dan menuntut ilmu, bukan semata-mata demi toga. Ketika kita melepaskan ketergantungan hati pada hasil (yang seringkali di luar kendali kita), beban di pundak akan terasa jauh lebih ringan.

  1. Seni Melepaskan Kekhawatiran (Tawakkul)

Sering overthinking tentang masa depan? “Nanti kerja apa?”, “Nanti bisa lulus tepat waktu nggak?”.

Dalam kitab At-Tawakkul, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakkul adalah perpaduan antara ikhtiar maksimal dan kepasrahan total. Rumusnya sederhana: Kerjakan Tugasmu (Ikhtiar) + Serahkan Hasilnya pada Allah (Tawakkul) = Ketenangan.

Jika kamu sudah begadang mengerjakan makalah atau meneliti skripsi dengan jujur, maka selesai sudah tugasmu. Biarkan Allah yang mengurus sisanya. Kekhawatiran setelah usaha maksimal adalah bentuk kesombongan halus, seolah-olah kita yang mengatur takdir, bukan Allah.

  1. Uzlah: Digital Detox ala Sufi

Di era siber ini, notifikasi HP adalah sumber distraksi dan stres terbesar. Al-Ghazali menyarankan Uzlah (mengasingkan diri sejenak) untuk menjernihkan hati.

Bagi mahasiswa UIN Siber, Uzlah tidak harus pergi ke gua. Cukup lakukan ini:

  • Matikan data seluler selama 1 jam saat membaca buku.
  • Datang ke pojok sepi di perpustakaan (mungkin di Cirebonese Corner?).
  • Renungi apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini (Muhasabah).

Keheningan adalah “charger” bagi jiwa yang lelah.

  1. Terapi Zikir: Healing Paling Murah dan Ampuh

Ketika stres melanda, detak jantung meningkat dan pikiran kacau. Al-Ghazali menekankan pentingnya Zikir sebagai metode untuk mengembalikan kesadaran. Secara psikologis, zikir yang dilakukan dengan hudhur al-qalb (hadirnya hati) memiliki efek relaksasi yang mirip dengan meditasi, namun dengan nilai spiritual yang jauh lebih tinggi.

Teman-teman mahasiswa, galau itu manusiawi. Bahkan ulama sekelas Al-Ghazali pun pernah mengalaminya. Bedanya, beliau menjadikan kegalauan sebagai titik balik untuk mendekat pada Sang Pencipta.

Jadi, jika hari ini skripsimu dicoret-coret dosen, tarik napas dalam-dalam. Ingatlah kata Imam Al-Ghazali: “Ketahuilah bahwa kebahagiaan itu ada pada kemenangan melawan hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih.”

Ingin mendalami pemikiran Imam Al-Ghazali? Perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki koleksi lengkap kitab Ihya’ Ulumuddin (baik terjemahan maupun kitab kuning). Yuk, main ke perpus!

Referensi:

  1. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumuddin. Jilid 3 (Rub’u Al-Muhlikat) & Jilid 4 (Rub’u Al-Munjiyaat). Beirut: Dar al-Ma’rifah.
  2. Al-Ghazali, Abu Hamid. Kimiya’ As-Sa’adah. (Terj. Kimia Kebahagiaan). Jakarta: Zaman.
  3. Najati, M. Uthman. (2005). Psikologi dalam Perspektif Islam (Ad-Dirasat an-Nafsiyah ‘inda al-Ulama al-Muslimin). Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru.
  4. Rusdi, A. (2018). Sufistic Psychotherapy: Konsep dan Implikasinya dalam Penanganan Gangguan Jiwa. Jurnal Teologia, 29(1).

*Kepala & Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon program Magister S2 beasiswa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top