Pusat Perpustakaan

Diskusi Budaya Cirebonese Corner: Menyapa Jejak Leluhur Melalui Tradisi Panjang Jimat

Diskusi Budaya Cirebonese Corner: Melestarikan Tradisi Panjang Jimat sebagai Warisan Budaya Islam Cirebon

Oleh: Syibli Maufur & Eka Cahya Nugraha
(Kepala & Pustakawan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
Dipublikasikan oleh: @Toh Tgl 03 Oktober 2025


Abstrak

Artikel ini mengulas kegiatan Diskusi Budaya Cirebonese Corner yang diselenggarakan oleh Pusat Perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Kegiatan ini mengangkat tema “Tradisi Panjang Jimat dan Romantisme Seni Pertunjukan: Jejak Leluhur Cirebon.” Melalui diskusi tersebut, pustakawan, dosen, mahasiswa, dan budayawan bersama-sama menggali nilai-nilai spiritual dan historis tradisi Panjang Jimat. Para peserta menafsirkan tradisi ini sebagai bentuk harmoni antara ajaran Islam dan budaya lokal. Artikel ini menegaskan peran perpustakaan sebagai cultural hub yang menggerakkan literasi budaya serta melestarikan warisan pengetahuan lokal.

Kata kunci: tradisi Panjang Jimat, budaya Cirebon, Cirebonese Corner, literasi budaya, perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati


Pendahuluan

Masyarakat Cirebon terus mempertahankan tradisi dan kebudayaan yang berakar pada nilai-nilai Islam dan kearifan lokal. Mereka menjaga berbagai warisan leluhur, salah satunya tradisi Panjang Jimat, sebagai simbol spiritual dan sosial.

Untuk mendukung upaya pelestarian tersebut, Pusat Perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui Cirebonese Corner menyelenggarakan Diskusi Budaya bertema “Tradisi Panjang Jimat dan Romantisme Seni Pertunjukan: Jejak Leluhur Cirebon.” Kegiatan ini mempertemukan dosen, mahasiswa, dan budayawan agar bersama-sama menelusuri nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam Panjang Jimat.

Melalui forum ini, pustakawan memperkuat peran perpustakaan sebagai penggerak literasi budaya dan penjaga pengetahuan lokal.


Makna dan Nilai Tradisi Panjang Jimat

Masyarakat Cirebon mempraktikkan tradisi Panjang Jimat sebagai bentuk penghormatan kepada ajaran Sunan Gunung Jati. Mereka mengekspresikan nilai spiritual melalui prosesi penabuhan gamelan Sekaten, Pelal Ageng, dan penyajian nasi jimat yang diiringi sholawat.

Warga tidak sekadar menjalankan upacara seremonial, tetapi juga menanamkan nilai pendidikan moral dan spiritual kepada generasi muda. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana leluhur Cirebon mengajarkan Islam dengan pendekatan budaya yang damai.

Dengan demikian, masyarakat menjadikan Panjang Jimat sebagai media pembelajaran tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur.


Perpustakaan sebagai Pusat Literasi Budaya (Cultural Hub)

Pustakawan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mengembangkan peran perpustakaan menjadi pusat literasi budaya yang hidup. Mereka tidak hanya mengelola koleksi buku, tetapi juga menciptakan ruang dialog yang mempertemukan pengetahuan akademik dan tradisi lokal.

Melalui kegiatan Cirebonese Corner, perpustakaan menghidupkan fungsi sebagai cultural hub yang mendorong kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat. Pustakawan memfasilitasi pertukaran gagasan, dokumentasi budaya, dan pembelajaran lintas generasi.

Dengan cara ini, perpustakaan berkontribusi aktif dalam menjaga identitas lokal sekaligus memperkuat pendidikan literasi budaya di lingkungan kampus.


Keterlibatan Akademisi dan Mahasiswa dalam Pelestarian Budaya

Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Mereka meneliti, mendokumentasikan, dan menafsirkan warisan budaya Cirebon melalui pendekatan ilmiah.

Para budayawan dan sejarawan Cirebon juga berbagi pengalaman langsung tentang bagaimana mereka menjaga dan meneruskan tradisi Panjang Jimat. Kolaborasi ini menciptakan ruang pembelajaran interaktif yang mempertemukan teori akademik dan praktik kebudayaan.

Dengan berperan aktif, mahasiswa dan budayawan ikut memastikan bahwa tradisi lokal tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.


Kesimpulan

Melalui Diskusi Budaya Cirebonese Corner, pustakawan memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan literasi. Kegiatan ini mengajarkan bahwa tradisi Panjang Jimat bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun identitas budaya Islam yang damai dan inklusif.

Perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus memperluas perannya sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dengan menggerakkan literasi budaya, pustakawan ikut menumbuhkan kesadaran masyarakat akademik untuk menjaga warisan Cirebon sebagai bagian dari khazanah budaya bangsa.


Daftar Pustaka

Ali, A. M. (2015). Nilai-nilai Islam dalam Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 4(2), 77–88.

Heryana, A. (2019). Islam dan Akulturasi Budaya Lokal: Studi atas Tradisi Panjang Jimat di Cirebon. Jurnal Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, 19(1), 45–56.

Lasa, H. S. (2017). Perpustakaan sebagai Pusat Pembelajaran dan Pelestarian Budaya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Niskala, F. (2023). Makna Simbolik Tradisi Panjang Jimat sebagai Warisan Budaya Islam Cirebon. Disampaikan dalam Diskusi Budaya Cirebonese Corner, Perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Nurhadi, A. (2020). Perpustakaan dan Literasi Budaya: Peran Pustakawan dalam Pelestarian Pengetahuan Lokal. Jurnal Pustaka Budaya, 8(2), 101–112.

Rachmawati, I. (2022). Cirebonese Identity and Cultural Continuity in Local Islamic Traditions. Indonesian Journal of Cultural Studies, 10(3), 23–34.


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top