AI vs Otak Sendiri: Panduan Etika Pemakaian AI dalam Pembuatan Makalah
Penulis : Tohirin & Anas Azhar Nasim*
Mukadimah
Bayangkan jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Deadline pengumpulan makalah mata kuliah Fiqh atau Metodologi Penelitian tinggal besok pagi, layar laptop masih kosong, dan kursor berkedip seolah mengejek kebuntuan ide Anda.
Dalam situasi “kepepet” seperti ini, godaan untuk membuka ChatGPT, Gemini, atau Perplexity sangat besar. Sekadar mengetikkan perintah, misalnya: “Buatkan saya makalah tentang Sejarah Peradaban Islam minimal 10 halaman”, dan voilà—tugas selesai dalam hitungan detik.
Sebagai mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang melek teknologi, penggunaan AI tentu bukan hal yang salah. Kampus bahkan mendorong adaptasi digital. Namun, pertanyaannya tetap: apakah Anda yang menulis, ataukah robot?
Jika salah memanfaatkan, kemudahan ini bisa membuat Anda menjadi “Zombie Akademik”—tampak produktif, tapi otak jarang dilatih berpikir kritis. Agar tidak terjebak, mari pahami etika penggunaan AI yang cerdas dan akademis.
1. AI Sebagai Co-Pilot, Anda Tetap Pilot-nya
Bayangkan Anda pilot pesawat. AI adalah sistem canggih di kokpit yang membantu navigasi. Namun, kendali tetap ada di tangan Anda.
Dalam mengerjakan makalah, gunakan AI sebagai partner brainstorming. Misalnya: “Apa saja poin penting untuk topik X?” atau “Buatkan kerangka tulisan (outline)”.
Tetapi, eksekusi pemikiran, analisis data, dan kesimpulan harus lahir dari otak Anda sendiri. Tulisan murni hasil AI cenderung datar dan kurang memiliki “ruh” penulis.
2. Waspada “Halusinasi AI”
AI adalah model bahasa, bukan mesin pencari fakta. Terkadang, AI menampilkan informasi meyakinkan tapi tidak akurat—disebut halusinasi AI.
Ia bisa menciptakan judul buku, nama penulis, atau halaman jurnal yang sebenarnya tidak ada. Jika Anda menyalin informasi ini, risiko nilai E karena plagiarisme akademik meningkat.
3. Dosen Bisa Mendeteksi Tulisan Robot
Tulisan hasil AI mentah biasanya memiliki pola khas:
-
Bahasa terlalu kaku atau baku berlebihan
-
Pengulangan kata yang monoton
-
Struktur kalimat datar
Mengumpulkan makalah tanpa revisi dan validasi sama saja menyerahkan tugas Anda pada robot. Ini bertentangan dengan prinsip integritas akademik.
4. Cara Menggunakan AI Secara Elegan
Berikut tips memanfaatkan AI tanpa melanggar etika:
-
Pahami konsep sulit: Minta AI menjelaskan teori kompleks dengan bahasa sederhana, kemudian tulis ulang dengan kata-kata Anda.
-
Perbaiki tata bahasa: Gunakan AI untuk memeriksa typo atau menyarankan perbaikan kalimat, bukan menulis dari nol.
-
Cari kata kunci penelitian: Gunakan AI untuk menyarankan kata kunci agar pencarian jurnal lebih efektif, bukan membuat daftar pustaka fiktif.
Kesimpulan
AI adalah alat yang powerful, tapi bukan pengganti kreativitas dan pemikiran kritis Anda. Jadikan AI sebagai co-pilot yang membantu proses, bukan penulis utama. Dengan pendekatan etis, AI dapat meningkatkan kualitas akademik sekaligus menjaga integritas.
Daftar Pustaka
Binns, R., Veale, M., Van Kleek, M., & Shadbolt, N. (2018). Fairness in machine learning: Lessons from political philosophy. Proceedings of the 2018 Conference on Fairness, Accountability, and Transparency, 149–159.
Floridi, L., & Cowls, J. (2019). A unified framework of five principles for AI in society. Harvard Data Science Review, 1(1). https://doi.org/10.1162/99608f92.8cd550d1
Luckin, R., Holmes, W., Griffiths, M., & Forcier, L. B. (2016). Intelligence unleashed: An argument for AI in education. Pearson.
Mittelstadt, B. D., Allo, P., Taddeo, M., Wachter, S., & Floridi, L. (2016). The ethics of algorithms: Mapping the debate. Big Data & Society, 3(2), 1–21. https://doi.org/10.1177/2053951716679679
Selwyn, N. (2019). Should robots replace teachers? AI and the future of education. Polity Press.
Stahl, B. C., Timmermans, J., & Flick, C. (2017). Ethics of emerging information and communication technologies: On the implementation of responsible research and innovation. Science and Public Policy, 44(3), 369–381. https://doi.org/10.1093/scipol/scw069