Pusat Perpustakaan

Perpustakaan Kampus di Era Digital: Antara Kemudahan Akses dan Tantangan Pengelolaan Informasi

Perpustakaan Kampus di Era Digital: Antara Kemudahan Akses dan Tantangan Pengelolaan Informasi

Oleh : Syibli Maufur,M.Pd

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi.

Perpustakaan yang dahulu identik dengan ruang fisik, rak buku, kartu anggota, dan layanan peminjaman kini berkembang menjadi pusat informasi yang dapat diakses melalui perangkat digital.

Mahasiswa dapat mencari katalog, membaca e-book, mengakses jurnal, menelusuri repository, hingga memperoleh layanan perpustakaan tanpa harus selalu datang secara langsung.
Perubahan tersebut memberikan kemudahan yang sangat besar.

Penelitian mengenai peran perpustakaan perguruan tinggi di era digital menunjukkan bahwa perkembangan platform pembelajaran digital dapat memperluas akses informasi dan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. Namun, transformasi tersebut juga membutuhkan infrastruktur teknologi yang memadai, konten yang relevan dan mutakhir, serta peningkatan kompetensi pustakawan dan pengguna.
Kemudahan akses ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mahasiswa dalam mengelola informasi.

Persoalan yang muncul bukan lagi sekadar “di mana mencari informasi?”, tetapi juga “informasi mana yang dapat dipercaya?”. Di internet, mahasiswa berhadapan dengan jutaan informasi yang memiliki tingkat kredibilitas berbeda.

UNESCO menjelaskan bahwa literasi informasi mencakup kemampuan mengenali kebutuhan informasi, menemukan, mengevaluasi, menggunakan, dan menciptakan informasi secara tepat.

Suara Mahasiswa
Contoh temuan
wawancara yang dapat digunakan setelah disesuaikan dengan hasil wawancara mahasiswa menunjukkan adanya perubahan perilaku pencarian informasi.
Seorang mahasiswa dapat mengatakan:
“Sekarang lebih mudah mencari referensi karena bisa lewat HP. Kalau membutuhkan artikel atau buku, saya biasanya mencari melalui Google terlebih dahulu.”

Mahasiswa lainnya mengungkapkan:
“Kadang saya menemukan banyak artikel, tetapi bingung mana yang benar-benar ilmiah. Kalau sudah menemukan jurnal dari internet, saya biasanya melihat apakah berasal dari kampus atau jurnal yang terpercaya.”

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kemudahan teknologi menghadirkan persoalan baru berupa banjir informasi. Mahasiswa membutuhkan kemampuan untuk menyeleksi, membandingkan, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Persoalan lainnya adalah belum semua mahasiswa memahami cara memanfaatkan sumber daya digital yang sebenarnya telah disediakan perpustakaan. Pengalaman Perpustakaan

Universitas Airlangga menunjukkan bahwa meskipun tersedia banyak database e-resources, tidak semua sivitas akademika memahami cara memanfaatkannya sehingga diperlukan program literasi informasi.
Hal serupa juga terlihat dalam pengelolaan layanan digital perguruan tinggi. Penelitian terhadap

Perpustakaan Universitas Indonesia menunjukkan bahwa dominasi e-resources mendorong perpustakaan untuk menyesuaikan konsep layanan dan mengevaluasi kemudahan akses koleksi digital bagi pengguna.

Di sisi lain, muncul tantangan baru berupa perkembangan Artificial Intelligence (AI). Mahasiswa kini dapat memperoleh ringkasan, rekomendasi referensi, bahkan bantuan penulisan dalam waktu singkat.

Perpustakaan perlu merespons perubahan tersebut melalui penguatan literasi informasi dan literasi AI. Penelitian terbaru tentang perpustakaan perguruan tinggi menunjukkan bahwa program literasi informasi mulai diarahkan untuk membantu mahasiswa menghadapi perubahan yang ditimbulkan oleh AI dalam kegiatan akademik.
Dengan demikian, perpustakaan kampus di era digital tidak cukup hanya menyediakan akses informasi. Perpustakaan harus menjadi penjaga kualitas informasi sekaligus pendamping mahasiswa dalam menggunakannya.

Transformasi digital idealnya tidak menghilangkan peran pustakawan, tetapi justru memperluas perannya: dari pengelola koleksi menjadi fasilitator pengetahuan, pendamping literasi informasi, dan mitra akademik mahasiswa.

Pada akhirnya, perpustakaan digital bukan sekadar perpustakaan yang dapat diakses melalui internet. Ia merupakan ekosistem pengetahuan yang harus mampu menjawab tiga kebutuhan utama mahasiswa: akses yang mudah, informasi yang berkualitas, dan kemampuan menggunakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.

Referensi utama: Delliana (2025), Naibaho (2020), Anawati (2020), dan Syahidah, Febriyanto & Adiba (2026). �
E-Journal Perpusnas +3

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top