Hati-Hati Jejak Digital: Strategi Membangun Personal Branding Positif Mahasiswa Sebelum Masuk Dunia Kerja
Penulis: Tohirin & Anas Azhar Nasim*
Pernahkah Anda iseng mengetik nama lengkap Anda sendiri di mesin pencari Google? Apa yang muncul di halaman pertama? Apakah prestasi akademik, profil LinkedIn yang rapi, atau justru cuitan galau di Twitter (X) dan komentar pedas di kolom komentar Instagram dari lima tahun lalu?
Di era siber saat ini, istilah “Digital Footprint” atau jejak digital adalah mata uang baru. Bagi mahasiswa, khususnya di lingkungan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, menyadari pentingnya jejak digital bukan hanya soal keamanan privasi, tetapi strategi krusial sebelum melangkah ke dunia profesional. Internet tidak pernah benar-benar lupa, dan apa yang Anda unggah hari ini bisa menjadi penentu karir Anda lima tahun ke depan.
CV Saja Tidak Cukup: HRD Sedang “Memata-matai” Anda
Banyak mahasiswa beranggapan bahwa IPK tinggi dan CV yang mentereng sudah cukup untuk melamar kerja. Faktanya, survei dari CareerBuilder menunjukkan bahwa 70% perusahaan menggunakan media sosial untuk menyaring kandidat selama proses perekrutan (CareerBuilder, 2018).
Perekrut tidak hanya mencari validasi keahlian, tetapi juga karakter. Unggahan yang berisi ujaran kebencian, keluhan berlebihan tentang dosen atau kampus, hingga gaya hidup yang dianggap kurang profesional bisa menjadi alasan kuat bagi perusahaan untuk mencoret nama Anda, meskipun nilai akademis Anda sempurna.
Personal Branding: Mengubah “Jejak” Menjadi “Aset”
Alih-alih takut dan menutup semua akun media sosial, mahasiswa cerdas justru memanfaatkan platform digital untuk membangun Personal Branding. Montoya (2002) mendefinisikan personal branding sebagai persepsi publik terhadap aspek kepribadian, kemampuan, atau nilai-nilai yang Anda miliki yang membedakan Anda dari orang lain.
Sebagai mahasiswa UIN, Anda bisa mulai membangun citra diri yang positif dengan cara:
- Kurasi Konten: Mulailah menghapus atau mengarsipkan postingan masa lalu yang kurang pantas atau “alay”. Bersihkan “sampah” digital Anda.
- Tunjukkan Keahlian: Jika Anda mahasiswa PAI, bagikan konten mikro-blog tentang metode pendidikan Islam yang modern. Jika Anda mahasiswa sastra, unggah ulasan buku atau puisi karya sendiri. Jadikan media sosial sebagai portofolio berjalan.
- Interaksi Positif: Bergabunglah dalam diskusi-diskusi produktif di LinkedIn atau grup komunitas. Cara Anda berkomentar mencerminkan kedewasaan intelektual Anda.
Perspektif Etika: Jejak Digital adalah Catatan Amal
Dalam konteks spiritual, jejak digital memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekadar urusan karir. Ia adalah manifestasi modern dari catatan amal. Dalam Islam, setiap ucapan dan tindakan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid. Di dunia digital, “malaikat” itu dibantu oleh server raksasa yang merekam setiap klik dan ketikan.
Menjaga lisan (dan jari) adalah bagian dari integritas seorang muslim. Sebuah unggahan yang bermanfaat bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir setiap kali dibaca orang, bahkan setelah kita wafat. Sebaliknya, jejak digital negatif bisa menjadi dosa jariyah yang terus terakses publik.
Mulai Sekarang!
Jangan menunggu wisuda untuk membenahi reputasi digital Anda. Mulailah hari ini dengan langkah sederhana: “Googling” nama Anda sendiri. Jika hasilnya belum memuaskan, berarti saatnya Anda membanjiri internet dengan konten positif tentang diri Anda.
Ingat, di dunia yang serba terhubung, Anda adalah apa yang Anda posting. Pastikan dunia mengenal Anda sebagai sosok intelektual yang beradab, bukan sekadar akun anonim yang penuh emosi.
Daftar Pustaka
CareerBuilder. (2018, August 9). More than half of employers have found content on social media that caused them not to hire a candidate. CareerBuilder Press Room. https://press.careerbuilder.com/2018-08-09-More-Than-Half-of-Employers-Have-Found-Content-on-Social-Media-That-Caused-Them-Not-to-Hire-a-Candidate
Montoya, P., & Vandehey, T. (2002). The brand called you: The ultimate brand-building guide to transforming the way you think about yourself and your business. Personal Branding Press.
Nasrullah, R. (2017). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sositeknologi. Simbiosa Rekatama Media.
Qualman, E. (2011). Digital leader: 5 simple keys to success and influence. McGraw-Hill Education.
*Pustakawan & Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon program Magister S2 beasiswa.