Belajar Agama di Era Digital: Google & YouTube, Apakah Sanad Keilmuan Kita Terjaga?
Penulis: Sybli Maufur & Anas Azhar Nasim
Di era digital, hampir mustahil bagi mahasiswa atau pelajar yang tidak pernah “berguru” pada Syekh Google atau Ustadz YouTube. Ingin mengetahui dalil shalat? Tinggal ketik. Bingung soal hukum pacaran? Cukup tonton video singkat di TikTok, Reels, atau YouTube.
Praktis, cepat, dan gratis. Namun, kemudahan ini menimbulkan kegelisahan akademik serius: ke mana perginya sanad keilmuan—rantai pertanggungjawaban ilmiah dan spiritual yang menjadi ciri khas tradisi Islam?
Pentingnya Sanad dalam Ilmu Agama
Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar informasi, melainkan warisan yang bersambung dari guru ke murid.
Abdullah bin Mubarak (Tabi’in) berkata: “Sanad itu bagian dari agama. Kalau tidak ada sanad, siapa saja bisa berkata apa saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim)
Di kampus modern, sanad diwujudkan melalui referensi akademik yang valid. Mengutip sembarangan dari blog anonim atau sumber tidak jelas memutus rantai ilmiah dan bisa menyesatkan pemahaman.
Bahaya Belajar Agama via Media Sosial
1. Dekontekstualisasi
Video singkat sering memotong penjelasan panjang seorang ulama demi mengejar views. Akibatnya, kita menerima pemahaman parsial, hitam-putih, dan dangkal.
2. Echo Chamber Algoritma
Media sosial menampilkan konten yang sesuai selera pengguna, bukan kebenaran. Hal ini membuat kita hanya mendengar pendapat yang sejalan dengan ego, dan merasa paling benar sendiri.
3. Informasi Tanpa Verifikasi
Mengutip YouTube atau Google tanpa cross-check berarti risiko tinggi salah tafsir, terutama jika tidak mengecek kitab asli atau referensi terpercaya.
Peran Perpustakaan: Benteng Verifikasi (Tabayyun)
Internet sebagai pintu gerbang, buku dan perpustakaan sebagai rumah ilmu.
Strategi belajar yang aman:
- Cari topik di Google, temukan kata kunci.
- Buka buku atau kitab tafsir/fiqh asli untuk memahami konteks lengkap.
- Cek penulis dan referensi: buku akademik telah melewati proses editorial dan memiliki daftar pustaka yang jelas—ini adalah sanad modern.
Contoh: Jika YouTube mengutip Tafsir Ibnu Katsir, verifikasi langsung di Tafsir Ibnu Katsir asli di perpustakaan.
Tips Menjaga Sanad di Era Digital
-
Cek Sumber Asli (Maraji’)
Jangan langsung percaya kutipan atau ringkasan. Selalu rujuk ke kitab atau sumber primer. -
Hindari “Katanya”
Jangan sitasi Wikipedia, Blogspot, atau konten anonim. Gunakan buku, jurnal terakreditasi, atau Opac perpustakaan. -
Berguru pada Ahli
Buku dan internet hanyalah benda mati. Diskusi langsung dengan dosen atau ulama memastikan pemahaman tidak salah tafsir. -
Gunakan Internet sebagai Awal, Bukan Tujuan
Google dan YouTube baik untuk menemukan topik, tetapi ilmu mendalam datang dari buku dan guru.
Kesimpulan
Teknologi memberikan informasi instan, tapi ilmu yang sahih membutuhkan sanad, verifikasi, dan bimbingan guru.
Mahasiswa modern harus kombinasikan internet dengan perpustakaan dan konsultasi dengan ahli agar pemahaman agama tetap akurat, berlapis, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Google memberimu sejuta jawaban, tapi perpustakaan memberimu jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan.
Referensi (Sanad Modern)
- Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim (Muqaddimah). Beirut: Dar Ihya’ At-Turats.
- Zar, Sirajuddin. (2014). Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: Rajawali Pers.
- Nasr, Seyyed Hossein. (1993). The Need for a Sacred Science. New York: SUNY Press.
- Perpustakaan UIN SSC. (2025). Mengenal Opac: Peta Harta Karun di Perpustakaan.
- Perpustakaan UIN SSC. (2025). Membaca Kritis: Membedakan Opini, Fakta, dan Hoax.