Belajar Ketekunan dari Syekh Nawawi Al-Bantani: Rahasia Produktivitas Menulis Kitab Kuning Tanpa Teknologi Modern
Penulis: Syibli Maufur & Anas Azhar Nasim*
Mukadimah
Sebagai sivitas akademika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, kita hidup di masa yang dimanjakan teknologi. Mau cari referensi? Ada Google Scholar dan Siber Library. Mau menulis? Ada laptop yang bisa copy-paste. Mau cek ejaan? Ada autocorrect.
Namun, ironisnya, dengan segala kemudahan ini, mengapa rasanya sangat sulit untuk menyelesaikan satu makalah atau skripsi tepat waktu? Mengapa “buntu ide” (writer’s block) menjadi alasan klasik kita?
Mungkin, kita perlu menengok ke belakang, jauh ke abad ke-19, kepada sosok ulama besar asal Nusantara yang produktivitasnya membuat teknologi kita terasa tidak ada harganya. Beliau adalah Syekh Nawawi Al-Bantani.
Sang “Sayyidul Hijaz” dari Banten
Lahir di Tanara, Banten, pada tahun 1813 M, Syekh Nawawi muda merantau ke Mekkah untuk menuntut ilmu. Di sana, beliau bukan hanya menjadi murid, tapi tumbuh menjadi mahaguru bagi ulama-ulama dunia, hingga dijuluki Sayyidul Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz/Mekkah).
Warisan terbesarnya bukanlah jabatan, melainkan karya tulis. Syekh Nawawi diperkirakan menulis lebih dari 115 kitab dalam berbagai disiplin ilmu: tafsir, fiqih, tasawuf, hingga tata bahasa. Karya masterpiece-nya, Tafsir Al-Munir, terdiri dari dua jilid tebal yang hingga kini menjadi rujukan di Universitas Al-Azhar Mesir dan pesantren di seluruh Nusantara. Belum lagi kitab Nashaihul Ibad yang mungkin sering kita kaji di masjid kampus.
Laboratorium Tanpa Listrik
Mari kita bayangkan “ruang kerja” Syekh Nawawi saat menulis ratusan kitab tersebut.
- Beliau hidup di masa sebelum listrik menerangi Mekkah. Tidak ada laptop, tidak ada printer, dan jelas tidak ada internet.
- Alat Tulis: Beliau menulis menggunakan pena bulu atau batang kayu (galam) yang dicelupkan ke tinta hitam.
- Penerangan: Sebagian besar karyanya ditulis di bawah temaram cahaya lampu minyak atau lilin di malam-malam gurun yang sunyi.
- Tanpa “Undo”: Jika beliau salah tulis satu halaman, tidak ada tombol Ctrl+Z. Beliau harus menulis ulang atau mencoretnya dengan sangat hati-hati.
- Tanpa “Google”: Untuk memverifikasi sebuah hadis atau pendapat ulama lain, beliau tidak bisa browsing. Beliau harus berjalan kaki ke perpustakaan Masjidil Haram, membuka lembar demi lembar manuskrip debu, atau mengandalkan hafalan yang kuat (di sinilah letak keberkahan ilmunya).
Ada riwayat yang menyebutkan, saking tekunnya menulis, jari telunjuk dan jari tengah beliau mengalami perubahan bentuk fisik (kapalan atau bengkok) karena puluhan tahun memegang pena tanpa henti.
“Tamparan” untuk Generasi Siber
Kisah Syekh Nawawi ini adalah sebuah “tamparan kasih sayang” bagi kita, mahasiswa UIN Siber. Coba kita renungkan:
- Syekh Nawawi menulis ribuan halaman hanya dengan cahaya lilin. Kita sering berhenti menulis skripsi hanya karena “wifi lagi lemot” atau “kurang mood”.
- Syekh Nawawi menghasilkan ratusan kitab yang dibaca dunia selama berabad-abad. Kita seringkali kesulitan menghasilkan satu artikel jurnal yang bebas plagiasi.
- Hambatan fisik dan minimnya fasilitas justru membuat “otot ketekunan” beliau semakin kuat. Sementara kita, fasilitas serba cepat seringkali justru melemahkan daya juang (adversity quotient) kita.
Meneladani Spirit, Bukan Hanya Alat
Sobat Pustaka, teknologi siber yang kita miliki di kampus ini adalah amanah, bukan sekadar kemudahan.
Jika Syekh Nawawi bisa sebegitu produktifnya dengan keterbatasan alat, bayangkan apa yang seharusnya bisa kita capai dengan dukungan Artificial Intelligence, perpustakaan digital, dan akses jurnal global yang disediakan UIN Siber Syekh Nurjati?
Kuncinya ada pada dua hal yang dimiliki Syekh Nawawi: Ketekunan (Istiqamah) dan Keikhlasan. Beliau menulis bukan untuk mengejar pangkat atau popularitas, melainkan untuk nasyrul ‘ilmi (menyebarkan ilmu) dan mengharap ridha Allah. Niat yang lurus inilah yang membuat waktunya menjadi berkah dan karyanya abadi.
Mulai hari ini, saat kamu merasa malas mengerjakan tugas, ingatlah bayangan Syekh Nawawi yang sedang menulis di bawah cahaya lilin. Malulah pada pena bulu beliau, dan biarkan rasa malu itu membakar semangatmu untuk kembali berkarya.
Laptopmu sudah canggih, sekarang giliran niat dan ketekunanmu yang perlu di-upgrade.
Koleksi Terkait di Perpustakaan:
- Tafsir Al-Munir karya Syekh Nawawi Al-Bantani (Tersedia di rak 2X1 dan Digital Library).
- Nashaihul Ibad (Tersedia dalam berbagai edisi terjemahan).
- Biografi Ulama Nusantara.
Daftar Pustaka
- Azra, A. (1994). Jaringan ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII. Mizan.
- Bruinessen, M. V. (1995). Kitab kuning, pesantren, dan tarekat. Mizan.
- Fathurahman, O. (2011). Khazanah naskah: Pandangan ulama Nusantara. Puslitbang Lektur Keagamaan.
- Iskandar, M. (2007). Biografi ulama Nusantara. Prenada Media.
- Nawawi al-Bantani. (n.d.). Tafsir al-Munir. (Berbagai penerbit).
- Nawawi al-Bantani. (n.d.). Nashaihul ‘Ibad. (Berbagai penerbit).
- Rifa’i, A. (2013). Syeikh Nawawi al-Bantani: Ulama terkemuka asal Banten. LKiS.
- Rohman, F. (2020). Produktivitas ulama Nusantara dalam tradisi penulisan kitab. Jurnal Studi Islam Nusantara, 4(1), 45–58.
- Suryadi, S. (2014). Tradisi intelektual ulama Hijaz asal Nusantara abad ke-19. Jurnal Lektur Keagamaan, 12(2), 295–318.
- Wahyudi, S. (2017). Ketekunan dan etos kerja dalam perspektif tasawuf. Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 5(1), 60–72.
*Kepala Pusat Perpustakaan & Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon program Magister S2 beasiswa.