Pusat Perpustakaan

Diskusi Budaya Cirebonese Corner – Menyapa Jejak Leluhur Melalui Tradisi Panjang Jimat

Diskusi Budaya Cirebonese Corner – Menyapa Jejak Leluhur Melalui Tradisi Panjang Jimat

Oleh : Syibli Maufur

Dipublish Tgl. 04 Oktober 2025

Pendahuluan

Diskusi budaya yang diinisiasi oleh Cirebonese Corner Perpustakaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dengan tema “Tradisi Panjang Jimat dan Romantisme Seni Pertunjukan: Jejak Leluhur Cirebon” menjadi ruang refleksi yang bermakna bagi saya sebagai pustakawan. Kegiatan yang menghadirkan dosen, mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), serta budayawan dan sejarawan Cirebon ini bukan sekadar forum ilmiah, tetapi juga pertemuan antara pengetahuan akademik, tradisi lokal, dan nilai spiritual. Dalam forum ini, materi yang dipaparkan oleh Farihin Niskala mengupas mendalam sejarah dan makna tradisi Panjang Jimat, mulai dari akar sejarahnya di era Sunan Gunung Jati hingga simbolisme sakral dalam setiap ritualnya.

Makna Panjang Jimat: Lebih dari Ritual Seremonial

Tradisi Panjang Jimat merupakan rangkaian panjang upacara di Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Prosesi ini meliputi:

  • Panjang Jimatan
  • Grebeg Maulud atau Pepek Jamaah
  • Arak-arakan pedang dan pusaka
  • Penyajian nasi jimat dan sesaji simbolik

Ritual ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol perjalanan spiritual, penghormatan kepada leluhur, dan penegasan identitas budaya Cirebon sebagai tanah wali.

Diskusi di Cirebonese Corner menyoroti bahwa Panjang Jimat adalah bentuk living tradition—hidup karena terus dipahami, dimaknai, dan diwariskan.

Sebagai pustakawan, saya memandang kegiatan ini sebagai bentuk nyata dari fungsi perpustakaan sebagai cultural hub — bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga ruang yang menumbuhkan kesadaran budaya dan identitas lokal. Melalui penjelasan tentang Panjang Jimat, kami belajar bahwa tradisi ini bukan sekadar upacara seremonial, tetapi sarat nilai pendidikan moral dan spiritual. Tradisi yang bermula dari syiar Islam di masa Sunan Gunung Jati ini menggambarkan bagaimana kebijaksanaan leluhur menggunakan pendekatan budaya untuk memperkenalkan ajaran Islam dengan damai. Penabuhan gamelan Sekaten, prosesi Pelal Ageng, hingga simbol nasi jimat yang dipenuhi lantunan sholawat menjadi cermin harmonisasi antara iman dan budaya.

Keterlibatan mahasiswa SPI dalam diskusi ini sangat penting sebagai bentuk pelestarian pengetahuan lokal berbasis akademik. Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga peneliti masa depan yang diharapkan mampu mendokumentasikan, menafsirkan, dan mengembangkan warisan budaya Cirebon dengan pendekatan ilmiah. Kehadiran para budayawan dan sejarawan pun menambah nilai otentik diskusi, karena dari merekalah kita mendapatkan narasi hidup tentang bagaimana Panjang Jimat terus dijaga dan diwariskan lintas generasi.

Bagi saya pribadi, kegiatan ini memperkuat keyakinan bahwa perpustakaan dapat berperan sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Melalui Cirebonese Corner, perpustakaan menjadi wadah interaksi pengetahuan yang tidak hanya mengandalkan literatur tertulis, tetapi juga menghadirkan pengetahuan lisan dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Diskusi ini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari misi literasi dan pendidikan. Pada akhirnya, diskusi budaya ini bukan hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan Cirebon yang luhur.

Kesimpulan

Tradisi Panjang Jimat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi masa kini. Melalui Diskusi Budaya Cirebonese Corner, masyarakat diajak menyapa jejak leluhur secara lebih sadar—memahami makna, merawat praktik, dan menuliskannya kembali untuk generasi mendatang.

Panjang Jimat bukan hanya ritual, tapi identitas: sebuah cara Cirebon berbicara kepada dunia tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Daftar Pustaka

  1. Badri, M. (2018). Tradisi Panjang Jimat di Keraton Cirebon: Sakralitas, Ritual, dan Identitas Budaya Lokal. Yogyakarta: Pustaka Nusantara.
  2. Djajadiningrat, H. (2020). Keraton Cirebon: Sejarah, Budaya, dan Warisan Leluhur. Jakarta: Balai Pustaka.
  3. Ekadjati, E. S. (2009). Masyarakat Sunda dan Sejarahnya. Bandung: Pustaka Jaya.
  4. Heryanto, A. (2021). “Makna Simbolik pada Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon.” Jurnal Kebudayaan dan Tradisi Nusantara, 12(2), 130–145.
  5. Isnendes, R. (2017). “Panjang Jimat sebagai Tradisi Keagamaan Masyarakat Cirebon.” Jurnal Antropologi Indonesia, 38(1), 56–69.
  6. Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
  7. Keraton Kasepuhan Cirebon. (2022). Tradisi Panjang Jimat dalam Peringatan Maulid Nabi. Diakses dari: https://www.keratonkasepuhan.com
  8. Pemerintah Kota Cirebon. (2021). Warisan Budaya Takbenda: Tradisi Panjang Jimat. Diakses dari: https://www.cirebonkota.go.id
  9. Santosa, R. (2020). “Panjang Jimat dan Identitas Budaya Masyarakat Cirebon.” Kompasiana. Diakses dari: https://www.kompasiana.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top