AI Dalam Riset Akademik : Kawan atau Lawan?
Oleh : Syibli Maufur & Anas Azhar Nasim*
dipublish Tgl.15 Oktober 2025
Pendahuluan
Mulai dari ChatGPT yang bisa menulis esai dalam hitungan detik hingga Elicit yang mampu merangkum puluhan jurnal, Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan telah merangsek cepat ke jantung dunia akademik. Di kalangan mahasiswa, AI kini menjadi “teman baru” yang diandalkan untuk mengerjakan tugas, mencari ide, bahkan membantu menyusun skripsi.
Namun, fenomena ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi luar biasa; di sisi lain, ia memicu kekhawatiran besar tentang orisinalitas dan kematian proses berpikir kritis.
Lalu, bagaimana kita sebagai insan akademis di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon harus menyikapinya? Apakah AI adalah kawan yang mempercepat kemajuan, atau lawan yang mengancam integritas ilmiah? Tulisan ini mencoba membedah kedua sisi tersebut.
AI sebagai Akselerator Riset
Tidak bisa dimungkiri, manfaat AI yang paling nyata adalah kemampuannya sebagai akselerator atau pemercepat riset. Bayangkan, alat AI yang berfokus pada penelitian mampu memindai dan merangkum ribuan artikel jurnal relevan hanya dalam hitungan menit. Ini menghemat waktu mahasiswa yang sebelumnya bisa berhari-hari hanya untuk melakukan literature review (kajian pustaka) secara manual.
Selain pencarian literatur, AI juga piawai membantu dalam aspek teknis penulisan. Alat bantu seperti Grammarly atau aplikasi parafrasa (paraphrasing tool) dapat memperbaiki tata bahasa dan menyusun kalimat yang lebih efektif. Bagi mahasiswa yang sering merasa buntu (writer’s block), AI bisa difungsikan sebagai “rekan diskusi” untuk memantik ide-ide awal yang segar.
Bahaya Plagiarisme dan Kedangkalan Berpikir
Namun, di sinilah letak bahaya terbesar AI: potensi plagiarisme dan kedangkalan berpikir. Mengandalkan AI untuk menulis analisis atau kesimpulan secara penuh sama saja dengan menyerahkan proses nalar dan berpikir kritis kita kepada mesin.
Para dosen kini semakin terlatih mendeteksi tulisan yang “tidak bernyawa” — hasil olahan AI yang sering kali tidak memiliki kedalaman analisis kontekstual. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis mahasiswa bisa tergerus karena terbiasa menerima hasil instan tanpa proses refleksi akademik.
Akurasi dan Prinsip Tabayyun
Masalah krusial lainnya adalah akurasi informasi. Dalam tradisi keilmuan Islam, kita mengenal prinsip tabayyun (klarifikasi). Prinsip ini sangat relevan di era AI.
Model bahasa besar (Large Language Model / LLM) seperti ChatGPT dikenal sering “berhalusinasi”, yakni menciptakan informasi palsu—termasuk kutipan atau daftar pustaka dari sumber yang sebenarnya tidak pernah ada. Peneliti yang tidak melakukan verifikasi ulang (tabayyun) dan langsung mengutip data palsu berarti telah gagal menjaga amanah ilmiah
AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Akal
Pada akhirnya, AI bukanlah kawan murni atau lawan sejati; ia adalah alat. Nilai sebuah alat bergantung sepenuhnya pada niat dan cara penggunanya. Pisau di tangan koki menghasilkan masakan lezat, tetapi di tangan yang salah bisa melukai.
Demikian pula AI: ia akan sangat bermanfaat jika ditempatkan pada posisi yang tepat. Gunakan AI secara bijak sebagai asisten peneliti, bukan sebagai peneliti utama. Manfaatkan AI untuk merangkum tumpukan jurnal, mencari kata kunci relevan, atau memperbaiki tata bahasa Inggris Anda. Namun, analisis, sintesis, interpretasi data, dan kesimpulan akhir harus murni berasal dari olah pikir kritis Anda sendiri.
Peran Perpustakaan dan Tanggung Jawab Akademik
Perpustakaan UIN Syekh Nurjati Cirebon sendiri menyediakan banyak sumber daya terverifikasi yang tidak bisa digantikan oleh AI. Manfaatkan database jurnal yang dilanggan perpustakaan — seperti Scopus, ProQuest, atau Portal Garuda — untuk memperoleh sumber primer yang valid.
Jadikan AI sebagai pintu gerbang pencarian, tetapi tetap jadikan koleksi perpustakaan, baik fisik maupun digital, sebagai sumber validasi utama.
Penutup: Mengendalikan, Bukan Menolak
Kecerdasan Buatan tidak akan pergi; ia akan terus terintegrasi dalam setiap lini kehidupan, termasuk dunia akademik. Tantangan kita bukanlah menolak teknologi ini, melainkan mengendalikannya.
Sebagai civitas akademika yang menjunjung tinggi integritas, mari kita manfaatkan AI untuk kebaikan, sambil tetap memegang teguh prinsip kejujuran intelektual (amanah ilmiah) dan nalar kritis.
Bagaimana menurut Anda? Apakah AI lebih banyak membantu atau justru mengancam proses riset Anda selama ini?
Bagikan pandangan Anda di kolom komentar di bawah!
Daftar Pustaka
-
Floridi, L., & Chiriatti, M. (2020). GPT-3: Its nature, scope, limits, and consequences. Minds and Machines, 30(4), 681–694. https://doi.org/10.1007/s11023-020-09548-1
-
Kasneci, E., Sessler, K., Küchemann, S., Bannert, M., Dementieva, D., Fischer, F., … & Kasneci, G. (2023). ChatGPT for good? On opportunities and challenges of large language models for education. Learning and Individual Differences, 103, 102274.
-
OpenAI. (2023). ChatGPT: Optimizing language models for dialogue. https://openai.com/blog/chatgpt
-
UNESCO. (2023). Guidance for generative AI in education and research. Paris: UNESCO Publishing.
-
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. (2024). Panduan Etika Akademik dan Penggunaan AI di Lingkungan Perguruan Tinggi. Cirebon: UIN SSC Press.
-
Ward, J., & Barker, A. (2023). Artificial intelligence and academic integrity: A framework for responsible use. Higher Education Research & Development, 42(7), 1352–1368.
______________________________________
*Kepala Perpustakaan UINSSC & Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (Program Magister S2 Beasiswa)